Refleksi hari Jumat tanggal 25 Oktober
2013 pukul 07.30 – 09.00 kuliah filsafat ilmu jurusan pendidikan matematika-S2 kelas
C. Hubungan antara logika, perasaan, dan takdir dapat digambarkan dalam mini story romantika kehidupan yang
mengandung unsur romantis. Dikisahkan romantika kakek dan nenek yang tinggal
berdua saja karena anak-anaknya sudah bekerja dan tinggal terpisah dari mereka.
Dinamika kehidupan itu naik turun, suatu ketika berpisah jauh ketika yang lain
dekat, ketika yang lain sama-sama bahagia, ketika yang lain sama-sama susah,
ketika yang satu bahagia dan yang satu susah, ketika yang lain sama-sama sehat,
ketika yang lain sama-sama sakit.
Suatu ketika, kakek dan nenek sama-sama
bekerja menghadap komputer. Kemudian ada tayangan televisi yang meliput tentang
satu tahun masa jabatan Jokowi, kakek lalu memanggil nenek untuk menonton
berita tersebut karena nenek suka dengan sosok Jokowi. Saat melihat tayangan
Jokowi blusukan dan ada orang yang datang mencium tangan Jokowi, nenek menjadi
teringat akan cerita Gamal Abdul Nazer yang juga didatangi seseorang yang
memberikan rangkaian bunga tetapi kemudian bunganya meledak kemudian dia
meninggal. Tetapi ternyata yang dimaksud nenek itu bukan Gamal Abdul Nazer,
tetapi Indra Gandhi perdana menteri India. Padahal di dalam pikiran kakek sudah
terpatri bahwa yang meninggal karena bom bunga adalah Gamal Abdul Nazer.
Sehingga kakek menjadi bingung bagaimana cara menghapus memori yang salah
tersebut. Untuk me-refresh memorinya,
maka sang kakek berjalan ke belakang untuk melihat pohon-pohon. Secara tidak
sengaja ada semut yang jatuh ke telinga kakek kemudia masuk ke dalam telinga
kakek. Dengan kejadian semut yang masuk telinga, maka tujuan kakek untuk
melupakan memori yang tadi telah tercapai.
Dari kisah tadi, maka logika tentang
Gamal Abdul Nazer mempengaruhi perasaan kakek menjadi agak sedikit kesal karena
adanya informasi yang salah. Sehingga logika mempengaruhi perasaan, yaitu
perasaan kakek menjadi agak sedikit kacau. Kemudian saat kakek jalan-jalan
keluar ada kejadian kejatuhan semut yang merupakan takdir. Jadi dalam kisah ini
terdapat unsur logika, perasaan dan takdir dalam rangka dinamika romantika
kehidupan rumah tangga kakek dan nenek.
Kisah lain juga dialami oleh dua insan
manusia saat memasuki jenjang yang lebih tinggi. Saat hari pertama memasuki
gerbang pendidikan yang baru dan perlahan mulai memasuki kelas, aku mulai
berkenalan dengan teman-temanku. Kelas yang ramah, meyenangkan, penuh
keceriaan, mulai berbagi cerita, dan juga pengalaman. Memiliki kelas yang baru
serasa memiliki keluarga baru. Di saat yang bersamaan aku telah kehilangan
kekasih hatiku, tetapi sharing dengan
seorang teman membuatku terhibur. Secara logika, untuk lebih mudah melupakan
orang di masa lalu, kita memulai kisah dengan orang yang baru. Semakin lama
kita berbicara, semakin sering kita pergi bersama, rasa nyaman antara satu
dengan yang lain pun mulai terasa. Berawal dari logika yang mempengaruhi
perasaanku, ketika rasa nyaman saat bersamanya, rasa suka pun tak dapat
terhindarkan. Aku suka dirinya dan dia suka diriku. Rasa suka kini perlahan
tumbuh menjadi rasa sayang. Dari rasa sayang itu, dia ingin memilikiku, dia menginginkan
aku menjadi kekasih hatinya. Namun ada sesuatu yang membuat kita sama-sama
masih ragu untuk melangkah lebih jauh menjadi sepasang kekasih, yaitu iman yang
berbeda. Walau ada yang bilang bahwa pacaran boleh beda iman, tetapi saat menikah
harus seiman, tetapi hati kami masih ragu. Dengan doa yang sering terucap di
bibir ini, akhirnya kami tahu jawaban dari Tuhan bahwa kami memang bukan
ditakdirkan untuk bersama. Dia bukanlah takdirku. Sekuat apapun kami berusaha
untuk saling menerima dan menyayangi, Tuhan telah memilihkan jalan lain yang
lebih baik untuk kami. Tuhan telah mempersiapkan orang lain yang seiman untukku
dan seseorang untuknya. Kita (aku dan dirinya) seperti sepasang sepatu, selalu
bersama namun tak bisa bersatu. Cinta memang banyak bentuknya, tapi tak semua
bisa bersatu.
No comments:
Post a Comment