Wednesday, November 20, 2013

HUBUNGAN ANTARA LOGIKA, PERASAAN, DAN TAKDIR



Refleksi hari Jumat tanggal 25 Oktober 2013 pukul 07.30 – 09.00 kuliah filsafat ilmu jurusan pendidikan matematika-S2 kelas C. Hubungan antara logika, perasaan, dan takdir dapat digambarkan dalam mini story romantika kehidupan yang mengandung unsur romantis. Dikisahkan romantika kakek dan nenek yang tinggal berdua saja karena anak-anaknya sudah bekerja dan tinggal terpisah dari mereka. Dinamika kehidupan itu naik turun, suatu ketika berpisah jauh ketika yang lain dekat, ketika yang lain sama-sama bahagia, ketika yang lain sama-sama susah, ketika yang satu bahagia dan yang satu susah, ketika yang lain sama-sama sehat, ketika yang lain sama-sama sakit.
Suatu ketika, kakek dan nenek sama-sama bekerja menghadap komputer. Kemudian ada tayangan televisi yang meliput tentang satu tahun masa jabatan Jokowi, kakek lalu memanggil nenek untuk menonton berita tersebut karena nenek suka dengan sosok Jokowi. Saat melihat tayangan Jokowi blusukan dan ada orang yang datang mencium tangan Jokowi, nenek menjadi teringat akan cerita Gamal Abdul Nazer yang juga didatangi seseorang yang memberikan rangkaian bunga tetapi kemudian bunganya meledak kemudian dia meninggal. Tetapi ternyata yang dimaksud nenek itu bukan Gamal Abdul Nazer, tetapi Indra Gandhi perdana menteri India. Padahal di dalam pikiran kakek sudah terpatri bahwa yang meninggal karena bom bunga adalah Gamal Abdul Nazer. Sehingga kakek menjadi bingung bagaimana cara menghapus memori yang salah tersebut. Untuk me-refresh memorinya, maka sang kakek berjalan ke belakang untuk melihat pohon-pohon. Secara tidak sengaja ada semut yang jatuh ke telinga kakek kemudia masuk ke dalam telinga kakek. Dengan kejadian semut yang masuk telinga, maka tujuan kakek untuk melupakan memori yang tadi telah tercapai.
Dari kisah tadi, maka logika tentang Gamal Abdul Nazer mempengaruhi perasaan kakek menjadi agak sedikit kesal karena adanya informasi yang salah. Sehingga logika mempengaruhi perasaan, yaitu perasaan kakek menjadi agak sedikit kacau. Kemudian saat kakek jalan-jalan keluar ada kejadian kejatuhan semut yang merupakan takdir. Jadi dalam kisah ini terdapat unsur logika, perasaan dan takdir dalam rangka dinamika romantika kehidupan rumah tangga kakek dan nenek.
Kisah lain juga dialami oleh dua insan manusia saat memasuki jenjang yang lebih tinggi. Saat hari pertama memasuki gerbang pendidikan yang baru dan perlahan mulai memasuki kelas, aku mulai berkenalan dengan teman-temanku. Kelas yang ramah, meyenangkan, penuh keceriaan, mulai berbagi cerita, dan juga pengalaman. Memiliki kelas yang baru serasa memiliki keluarga baru. Di saat yang bersamaan aku telah kehilangan kekasih hatiku, tetapi sharing dengan seorang teman membuatku terhibur. Secara logika, untuk lebih mudah melupakan orang di masa lalu, kita memulai kisah dengan orang yang baru. Semakin lama kita berbicara, semakin sering kita pergi bersama, rasa nyaman antara satu dengan yang lain pun mulai terasa. Berawal dari logika yang mempengaruhi perasaanku, ketika rasa nyaman saat bersamanya, rasa suka pun tak dapat terhindarkan. Aku suka dirinya dan dia suka diriku. Rasa suka kini perlahan tumbuh menjadi rasa sayang. Dari rasa sayang itu, dia ingin memilikiku, dia menginginkan aku menjadi kekasih hatinya. Namun ada sesuatu yang membuat kita sama-sama masih ragu untuk melangkah lebih jauh menjadi sepasang kekasih, yaitu iman yang berbeda. Walau ada yang bilang bahwa pacaran boleh beda iman, tetapi saat menikah harus seiman, tetapi hati kami masih ragu. Dengan doa yang sering terucap di bibir ini, akhirnya kami tahu jawaban dari Tuhan bahwa kami memang bukan ditakdirkan untuk bersama. Dia bukanlah takdirku. Sekuat apapun kami berusaha untuk saling menerima dan menyayangi, Tuhan telah memilihkan jalan lain yang lebih baik untuk kami. Tuhan telah mempersiapkan orang lain yang seiman untukku dan seseorang untuknya. Kita (aku dan dirinya) seperti sepasang sepatu, selalu bersama namun tak bisa bersatu. Cinta memang banyak bentuknya, tapi tak semua bisa bersatu.

No comments:

Post a Comment