Berikut ini adalah
refleksi mata kuliah filsafat ilmu pada hari Jumat, 4 Oktober 2013 bersama
dengan Prof. Dr. Marsigit, MA untuk Program Studi Pendidikan Matematika kelas C
di ruang 103 gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Banyak
pertanyaan yang muncul dalam belajar filsafat. Jika bertanya menandakan adanya
kebingungan. Dengan adanya kebingungan tersebut, berarti manusia sedang
berpikir. Berpikir sedalam-dalamnya mengandung makna mencari hakikat. Dalam
sedalam-dalamnya juga berarti tinggi setinggi-tingginya dalam filsafat, luas
seluasnya juga mengandung makna sempit sesempit-sempitnya. Menjawab pertanyaan
tentang dimensi formal, normatif, material, dan spriritual itu bermaksud
berfikir intensif, mengintensifkan pengertian istilah, makna, dan bahasa. Kita
membuat pembagian dengan cara yang sangat kasar. Dunia yang begitu rumit,
kompleks yang begitu besar hanya dibagi menjadi 4. Ternyata material pun
berdimensi, formal pun berdimensi, normatif pun berdimensi, dan spiritual pun
berdimensi. Dan dimensinya itu satu dengan yang lain merentang meliputinya
dengan yang lain. Dimensi material meliputi juga spiritual, dimensi formal
meliputi juga formal dan spiritual, dimensi normatif meliputi juga material dan
spiritual, apalagi dimensi spiritual meliputi semuanya.
Dimensi material,
bagaimana orang melihat dan memaknai benda-benda di sekitar kita. Misalnya
orang yang melihat pasir di sungai kemudian berpikir dan takut karena sungainya
dangkal dan bisa menjadi banjir. Tetapi ada juga yang bersyukur karena sebentar
lagi akan mendapatkan banyak uang dan dapat diekspor ke Singapura. Jadi
material itu berdimensi-dimensi. Si subyeknya berdimensi dan yang dipikirkan
juga berdimensi. Artinya cara seorang anak kecil memahami dunia di sekitarnya
bebeda dengan cara orang tua memahami dunia. Mungkin anak kecil memahami dunia
disekitarnya hanya jarak jauh dekat, senang tidak senang, baik tidak baik.
Formal itu juga
berdimensi, formal dalam diri sendiri, formal dalam keluarga, formal hubungan
suami istri, formal bertetangga, formal bermasyarakat, formal berkuliah, formal
berkantor, formal dalam lingkup satu budaya, dan formal universal. Ada
jangkauan dimana anda bersifat formal, formal itu menyangkut yang informal,
selalu seperti itu. Misalnya di rumah sedang kedatangan tamu, maka cara
berpakaian seseorang menentukan tingkat keformalan seseorang. Ada atau tidak
adanya orang dirumah, sikap kita menentukan keformalan diri. Disini tidak
membicarakan tentang baik dan buruk, tetapi kadar keformalan. Misalnya saat
dirumah tidak ada orang pun, saat melewati kursi juga bilang permisi karena
sudah terbiasa. Tetapi mungkin karena kebiasaan juga posisi duduknya menentukan
keformalan. Misalnya saat kuliah filsafat duduknya tidak dalam posisi biasanya
tetapi posisi berkerumun. Bentuk formal itu menjamin, formal itu wadahnya dan
normatif itu isinya.
Antara wadah dan isi
tidak bisa hanya dipentingkan salah satu saja, dua-duanya saling melengkapi.
Ada orang berpakaian rapi dan formal namun pembohong, ada juga yang
penampilannya seadanya namun jujur dan komit terhadap pekerjaan. Tetapi wadah
itu juga menjamin substansi. Ketika menyampaikan kuliah filsafat di terminal Condong
Catur maka tidak akan ada manfaatnya dan yang dibicarakan tidak ada gunannya,
karena tidak ada daftar hadir dan tidak tercatat sebagai perkuliahan. Bahkan
kecelakaan pun ada kecelakaan formal dan kecelakaan tidak formal. Saat seorang
pengendara sepeda motor tidak membawa Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan mengalami
kecelakaan maka kecelakaanya tidak formal. Karena tidak fomal maka tidak resmi,
sehingga tidak berhak mendapatkan jasa raharja. Itulah akibatnya jika
mengabaikan formalitas. Jadi SIM adalah bentuk formal, wadahnya dari hak untuk
memperoleh jasa raharja. Jadi formal itu tidak boleh diabaikan. Contoh lainnya
adalah helm, setiap pengendara harus memakai helm, karena itu adalah aturannya.
Jadi bentuk formal itu menjamin. Maka material dari cinta adalah cincin, karena
sewajarnya jika bertunangan itu tukar cincin, bukan tukar rumah, tukar bunga,
atau tukar kambing. Misalnya saja tukar kambing, lalu setelah bertunangan
kambingnya mati, maka bagaimana dengan cintanya? Karena material cinta itu
menyangkut kualitas, dicari yang awet, yang tahan banting, yang kemana-mana
mudah dibawa, yang mudah disimpan dan diingat, maka cincinlah yang paling
tepat. Misalnya bertunangan dengan tukar menukar tali sepatu, logikannya tali
sepatu ada di bawah dan mungkin terinjak, maka value dari cintanya dipertanyakan. Selain itu, misalnya bertunangan
dengan tukar menukar file, maka masih mungkin terkena virus, terdelete, dan sebagainya. Maka sudah
teruji bahwa material yang paling cocok untuk cinta adalah cincin.
Filsafat berdasar pada
pengalaman sehari-hari dalam kehidupan. Kita mendapatkan pengalaman hidup
dengan membaca. Bagaimana akan mendapatkan pengalaman jika tidak membaca?
Membaca elegi merupakan bacaan informal, tingkah laku kita sambil memikirkannya
dan merefleksi, itulah bacaan sesungguhnya. Bacaan substansi yang berarti
kemanapun kita melangkah, maka kita memikirkannya.
Selanjutnya, bentuk
formal dari cinta adalah menikah karena menikah itu menjamin hak dan kewajiban.
Jika tidak ada pernikahan maka hanya menguntungkan pihak laki-laki dan
merugikan perempuan. Tetapi karena perkembangan manusia yang hebat, yang cepat,
yang sophisticated, dengan teknologi
canggih sehingga orang lama-lama menjadi kaya, mempunyai pesawat pribadi, dapat
membeli pulau sehingga tak terbebankan menanggung kewajiban. Sehingga jika
pernikahan menjadi masalah, maka diambil jalan pintas yaitu memisahkan antara
cinta dengan pernikahan, cinta ya cinta, menikah ya menikah. Tidak ada hubungan
antara cinta dan married untuk mereka
yang mengambil alternatif sehingga tidak menanggung beban dan kewajiban. Dari
waktu ke waktu muncul perceraian sehingga terjadi pembagian harta dan denda
uang, sehingga menyebabkan orang mencari jalan pintas dan menganulir bentuk
formalnya. Cinta merupakan kasus
individu, jika diekstensifkan maka kambing-kambing pun bercinta,
tumbuh-tumbuhan bercinta, batu pun juga bercinta. Romanticism adalah suatu jalan yang tidak mudah. Apalagi cinta Yang
Maha Kuasa.
Hanya dengan filsafat
saja kita mampu menganalogi bahwa berpikir adalah gerak. Artinya berpikir itu
tidak dalam keadaan diam, itu material. Contohnya ketika batu sedang terjun
dari puncak gunung ke lembah, maka batu itu sebenarnya sedang berpikir karena
ada gerakan. Berpikirlah engkau batu, kenapa engkau yang begitu besar, tempatmu
duduk disitu tidak cukup kuat menopangmu di situ. Kalau engkau memang ingin
bergerak, maka bergeraklah. Contoh lain adalah laut. Wahai laut, engkau yang
begitu besar, tunjukkanlah bahwa dirimu berpikir. Kenapa laut yang begitu
besar, permukaannya yang begitu lembut, dan ada angin yang begitu besar, kenapa
engkau tidak mau berubah? Maka terbentuklah gelombang laut yang tidak pernah
berhenti. Berpikir adalah kodrat, maka wajib menuntut ilmu karena menuntut ilmu
itu adalah kodrat.
Wadah tanpa isi adalah
kosong. Isi tanpa wadah juga tidak mempunyai makna. Dua-duanya haruslah
seimbang antara wadah dan juga isi. Ada cerita tentang istri dari Prof. Dr.
Marsigit, MA yang sedang pergi ke Cina dengan rombongan kepala sekolah. Ada
salah satu anggota rombongan yang tertinggal di imigrasi Cina karena mempunyai
nama Bin Hambali. Maka selama empat jam imigrasi Cina berusaha mempelajari
tentang Hambali, sehingga menyebabkan penundaan rombongan selama empat jam. Hal
ini memberikan contoh bahwa imigrasi Cina
menemukan wadah, yaitu wadah Hambali,
namun setelah diaduk-aduk tidak menemukan isi di dalamnya.
Kecerdasan sopan santun
baru berdimensi empat, yaitu: material, formal normatif, dan spiritual. Padahal
setiap yang ada dan yang mungkin ada mempunyai dimensinya masing-masing dan
mempunyai bahasanya masing-masing. Contohnya adalah bagaimana cerita Sang
Arjuna bercinta dalam kisah Ramayana berbeda dengan bagaimana seorang preman
bercinta. Hal ini juga berbeda ketika para dewa bercinta. Jangan pernah
mengganggu para dewa yang sedang bercinta. Jika para dewa bercinta bisa
mengubah dunia, sedangkan cintanya preman maksimal hanya merubah gang. Cinta Betara
Guru dalam hal ini para dewa yaitu dengan terbang di angkasa, kemudian jatuh
cinta kepada Betari Durga yang sangat cantik, namun cintanya kemudian jatuh ke
permukaan air laut, salah ruang dan waktu, maka lahirlah Betara Kala yang
berarti tentang keburukan, itulah cinta Mahabarata dan ada sub-subnya misalnya
Baratayudha yang dapat merubah dunia. Maka karena cintanya seorang proklamator,
Indonesia tetap bekerjasama dengan Jepang dan menghidupi rakyat Jepang. Pribadi
kita terlihat dari tutur kata dan bahasa yang kita gunakan. Berbeda lagi dengan
cintanya orang filsafat. Cintanya orang filafat adalah romantis, romanticism. Tetapi ternyata romantis
disitu bukan tentang cinta, melainkan tentang etik, estetika, idealis, dan
lain-lain.
Filsafat itu sangat
halus, tiada yang dapat menandingi kehalusan dan kelembutan filsafat. Misalnya
berfilsafat yaitu sekarang sudah sampai di London, kemudian ke Melbourne,
Tokyo, New York, kembali ke Jogja, secepat itu dan selembut itu. Maka
berfilsafat itu artinya memperlembut diri sendiri. Ada pertanyaan berfilsafat,
yaitu bagaimana ketemu Tuhan? Semakin ketimur, ke negara beragama maka akan
dijawab, “Tidak akan bertemu jika hanya bertanya saya.” Kerjakan saja langsung,
maka jika diijinkan akan bertemu dengan Tuhan. Sama halnya dengan berfilsafat,
yaitu membaca saja. Dengan membaca maka akan bertemu dengan filsafat. Saat
membaca itu maka akan bertemu dengan filsafat. Begitu pula saat berdoa maka
akan bertemu dengan Tuhan.
No comments:
Post a Comment