Wednesday, November 20, 2013

DIMENSI MATERIAL, FORMAL, NORMATIF, DAN SPIRITUAL



Berikut ini adalah refleksi mata kuliah filsafat ilmu pada hari Jumat, 4 Oktober 2013 bersama dengan Prof. Dr. Marsigit, MA untuk Program Studi Pendidikan Matematika kelas C di ruang 103 gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Banyak pertanyaan yang muncul dalam belajar filsafat. Jika bertanya menandakan adanya kebingungan. Dengan adanya kebingungan tersebut, berarti manusia sedang berpikir. Berpikir sedalam-dalamnya mengandung makna mencari hakikat. Dalam sedalam-dalamnya juga berarti tinggi setinggi-tingginya dalam filsafat, luas seluasnya juga mengandung makna sempit sesempit-sempitnya. Menjawab pertanyaan tentang dimensi formal, normatif, material, dan spriritual itu bermaksud berfikir intensif, mengintensifkan pengertian istilah, makna, dan bahasa. Kita membuat pembagian dengan cara yang sangat kasar. Dunia yang begitu rumit, kompleks yang begitu besar hanya dibagi menjadi 4. Ternyata material pun berdimensi, formal pun berdimensi, normatif pun berdimensi, dan spiritual pun berdimensi. Dan dimensinya itu satu dengan yang lain merentang meliputinya dengan yang lain. Dimensi material meliputi juga spiritual, dimensi formal meliputi juga formal dan spiritual, dimensi normatif meliputi juga material dan spiritual, apalagi dimensi spiritual meliputi semuanya.
Dimensi material, bagaimana orang melihat dan memaknai benda-benda di sekitar kita. Misalnya orang yang melihat pasir di sungai kemudian berpikir dan takut karena sungainya dangkal dan bisa menjadi banjir. Tetapi ada juga yang bersyukur karena sebentar lagi akan mendapatkan banyak uang dan dapat diekspor ke Singapura. Jadi material itu berdimensi-dimensi. Si subyeknya berdimensi dan yang dipikirkan juga berdimensi. Artinya cara seorang anak kecil memahami dunia di sekitarnya bebeda dengan cara orang tua memahami dunia. Mungkin anak kecil memahami dunia disekitarnya hanya jarak jauh dekat, senang tidak senang, baik tidak baik.
Formal itu juga berdimensi, formal dalam diri sendiri, formal dalam keluarga, formal hubungan suami istri, formal bertetangga, formal bermasyarakat, formal berkuliah, formal berkantor, formal dalam lingkup satu budaya, dan formal universal. Ada jangkauan dimana anda bersifat formal, formal itu menyangkut yang informal, selalu seperti itu. Misalnya di rumah sedang kedatangan tamu, maka cara berpakaian seseorang menentukan tingkat keformalan seseorang. Ada atau tidak adanya orang dirumah, sikap kita menentukan keformalan diri. Disini tidak membicarakan tentang baik dan buruk, tetapi kadar keformalan. Misalnya saat dirumah tidak ada orang pun, saat melewati kursi juga bilang permisi karena sudah terbiasa. Tetapi mungkin karena kebiasaan juga posisi duduknya menentukan keformalan. Misalnya saat kuliah filsafat duduknya tidak dalam posisi biasanya tetapi posisi berkerumun. Bentuk formal itu menjamin, formal itu wadahnya dan normatif itu isinya.
Antara wadah dan isi tidak bisa hanya dipentingkan salah satu saja, dua-duanya saling melengkapi. Ada orang berpakaian rapi dan formal namun pembohong, ada juga yang penampilannya seadanya namun jujur dan komit terhadap pekerjaan. Tetapi wadah itu juga menjamin substansi. Ketika menyampaikan kuliah filsafat di terminal Condong Catur maka tidak akan ada manfaatnya dan yang dibicarakan tidak ada gunannya, karena tidak ada daftar hadir dan tidak tercatat sebagai perkuliahan. Bahkan kecelakaan pun ada kecelakaan formal dan kecelakaan tidak formal. Saat seorang pengendara sepeda motor tidak membawa Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan mengalami kecelakaan maka kecelakaanya tidak formal. Karena tidak fomal maka tidak resmi, sehingga tidak berhak mendapatkan jasa raharja. Itulah akibatnya jika mengabaikan formalitas. Jadi SIM adalah bentuk formal, wadahnya dari hak untuk memperoleh jasa raharja. Jadi formal itu tidak boleh diabaikan. Contoh lainnya adalah helm, setiap pengendara harus memakai helm, karena itu adalah aturannya. Jadi bentuk formal itu menjamin. Maka material dari cinta adalah cincin, karena sewajarnya jika bertunangan itu tukar cincin, bukan tukar rumah, tukar bunga, atau tukar kambing. Misalnya saja tukar kambing, lalu setelah bertunangan kambingnya mati, maka bagaimana dengan cintanya? Karena material cinta itu menyangkut kualitas, dicari yang awet, yang tahan banting, yang kemana-mana mudah dibawa, yang mudah disimpan dan diingat, maka cincinlah yang paling tepat. Misalnya bertunangan dengan tukar menukar tali sepatu, logikannya tali sepatu ada di bawah dan mungkin terinjak, maka value dari cintanya dipertanyakan. Selain itu, misalnya bertunangan dengan tukar menukar file, maka masih mungkin terkena virus, terdelete, dan sebagainya. Maka sudah teruji bahwa material yang paling cocok untuk cinta adalah cincin.
Filsafat berdasar pada pengalaman sehari-hari dalam kehidupan. Kita mendapatkan pengalaman hidup dengan membaca. Bagaimana akan mendapatkan pengalaman jika tidak membaca? Membaca elegi merupakan bacaan informal, tingkah laku kita sambil memikirkannya dan merefleksi, itulah bacaan sesungguhnya. Bacaan substansi yang berarti kemanapun kita melangkah, maka kita memikirkannya.
Selanjutnya, bentuk formal dari cinta adalah menikah karena menikah itu menjamin hak dan kewajiban. Jika tidak ada pernikahan maka hanya menguntungkan pihak laki-laki dan merugikan perempuan. Tetapi karena perkembangan manusia yang hebat, yang cepat, yang sophisticated, dengan teknologi canggih sehingga orang lama-lama menjadi kaya, mempunyai pesawat pribadi, dapat membeli pulau sehingga tak terbebankan menanggung kewajiban. Sehingga jika pernikahan menjadi masalah, maka diambil jalan pintas yaitu memisahkan antara cinta dengan pernikahan, cinta ya cinta, menikah ya menikah. Tidak ada hubungan antara cinta dan married untuk mereka yang mengambil alternatif sehingga tidak menanggung beban dan kewajiban. Dari waktu ke waktu muncul perceraian sehingga terjadi pembagian harta dan denda uang, sehingga menyebabkan orang mencari jalan pintas dan menganulir bentuk formalnya.  Cinta merupakan kasus individu, jika diekstensifkan maka kambing-kambing pun bercinta, tumbuh-tumbuhan bercinta, batu pun juga bercinta. Romanticism adalah suatu jalan yang tidak mudah. Apalagi cinta Yang Maha Kuasa.
Hanya dengan filsafat saja kita mampu menganalogi bahwa berpikir adalah gerak. Artinya berpikir itu tidak dalam keadaan diam, itu material. Contohnya ketika batu sedang terjun dari puncak gunung ke lembah, maka batu itu sebenarnya sedang berpikir karena ada gerakan. Berpikirlah engkau batu, kenapa engkau yang begitu besar, tempatmu duduk disitu tidak cukup kuat menopangmu di situ. Kalau engkau memang ingin bergerak, maka bergeraklah. Contoh lain adalah laut. Wahai laut, engkau yang begitu besar, tunjukkanlah bahwa dirimu berpikir. Kenapa laut yang begitu besar, permukaannya yang begitu lembut, dan ada angin yang begitu besar, kenapa engkau tidak mau berubah? Maka terbentuklah gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Berpikir adalah kodrat, maka wajib menuntut ilmu karena menuntut ilmu itu adalah kodrat.
Wadah tanpa isi adalah kosong. Isi tanpa wadah juga tidak mempunyai makna. Dua-duanya haruslah seimbang antara wadah dan juga isi. Ada cerita tentang istri dari Prof. Dr. Marsigit, MA yang sedang pergi ke Cina dengan rombongan kepala sekolah. Ada salah satu anggota rombongan yang tertinggal di imigrasi Cina karena mempunyai nama Bin Hambali. Maka selama empat jam imigrasi Cina berusaha mempelajari tentang Hambali, sehingga menyebabkan penundaan rombongan selama empat jam. Hal ini memberikan contoh bahwa imigrasi  Cina menemukan  wadah, yaitu wadah Hambali, namun setelah diaduk-aduk tidak menemukan isi di dalamnya.
Kecerdasan sopan santun baru berdimensi empat, yaitu: material, formal normatif, dan spiritual. Padahal setiap yang ada dan yang mungkin ada mempunyai dimensinya masing-masing dan mempunyai bahasanya masing-masing. Contohnya adalah bagaimana cerita Sang Arjuna bercinta dalam kisah Ramayana berbeda dengan bagaimana seorang preman bercinta. Hal ini juga berbeda ketika para dewa bercinta. Jangan pernah mengganggu para dewa yang sedang bercinta. Jika para dewa bercinta bisa mengubah dunia, sedangkan cintanya preman maksimal hanya merubah gang. Cinta Betara Guru dalam hal ini para dewa yaitu dengan terbang di angkasa, kemudian jatuh cinta kepada Betari Durga yang sangat cantik, namun cintanya kemudian jatuh ke permukaan air laut, salah ruang dan waktu, maka lahirlah Betara Kala yang berarti tentang keburukan, itulah cinta Mahabarata dan ada sub-subnya misalnya Baratayudha yang dapat merubah dunia. Maka karena cintanya seorang proklamator, Indonesia tetap bekerjasama dengan Jepang dan menghidupi rakyat Jepang. Pribadi kita terlihat dari tutur kata dan bahasa yang kita gunakan. Berbeda lagi dengan cintanya orang filsafat. Cintanya orang filafat adalah romantis, romanticism. Tetapi ternyata romantis disitu bukan tentang cinta, melainkan tentang etik, estetika, idealis, dan lain-lain.
Filsafat itu sangat halus, tiada yang dapat menandingi kehalusan dan kelembutan filsafat. Misalnya berfilsafat yaitu sekarang sudah sampai di London, kemudian ke Melbourne, Tokyo, New York, kembali ke Jogja, secepat itu dan selembut itu. Maka berfilsafat itu artinya memperlembut diri sendiri. Ada pertanyaan berfilsafat, yaitu bagaimana ketemu Tuhan? Semakin ketimur, ke negara beragama maka akan dijawab, “Tidak akan bertemu jika hanya bertanya saya.” Kerjakan saja langsung, maka jika diijinkan akan bertemu dengan Tuhan. Sama halnya dengan berfilsafat, yaitu membaca saja. Dengan membaca maka akan bertemu dengan filsafat. Saat membaca itu maka akan bertemu dengan filsafat. Begitu pula saat berdoa maka akan bertemu dengan Tuhan.

No comments:

Post a Comment