Wednesday, November 20, 2013

BAHASA ANALOG: Hamba dan Talenta



Refleksi hari jumat tanggal 11 Oktober 2013 pukul 07.30 – 09.00 kuliah filsafat ilmu kelas C. Bahasa analog, ketika belum ada penjelasan tentang jaka tingkir, kita belum paham. Ketika sudah dijelaskan menjadi paham. Kemudian orang menggunakan dalam kondisi tertentu dan level tertentu sehingga orang mungkin tidak paham. Selain itu kita juga menjumpai bahasa, tujuannya adalah kita mampu mengkomunikasikan hal-hal yang dimensinya berbeda. Jadi dimensi orang tua berbeda dengan dimensi anak-anak, dimensi kakek-kakek berbeda dengan dimensi orang muda. Bahasa analog tidak sekedar pengandaian dan untuk memahaminya perlu waktu, perlu pengalaman, dan perlu ikhtiar, serta perlu mengalaminya. Itulah pentingnya berdimensi dan bahasa.
Berfilsafat itu mengembangkan kemampuan untuk mengkomunikasikan antara hal-hal yang ada pada dimensi tertentu. Kemudian dengan   adanya pertanyaan mengenai dimensi material, kemudian naik ke dimensi formal, kemudian naik ke dimensi normative, dan kemudian dimensi spiritual sebagai modal awal untuk mulai sensitive terhadap ruang dan waktu. Padahal yang digambarkan tentang 4 dimensi itu baru sebuah struktur yang dibuat, struktur yang lain masih banyak. Menyadari adanya struktur lain yang masih banyak tersebut itu manfaat mempelajari filsafat, apalagi mengenali, apalagi mendeskripsikn, apalagi menggunakannya. Struktur hidup itu mulai dari diriku, dirimu, dan diri kita. Diri s2 UNY, diri UNY, diri pendidikan, diri pendidikan nasional itu sudah merupakan suatu struktur tersendiri.  Tetapi mulai dari diriku, diri keluargaku, diri tetanggaku, diri RTku, RWku, kampungku, kelurahanku, kecamatanku merupakan struktur lagi. Pikiran, hati, badaniah, rohaniah merupakan struktur. Jadi ada banyak struktur yang perlu dikenali, diidentifikasi, dijabarkan, dan seterusnya.
Ketika menulis karya ilmiah menggunakan bahasa ilmiah yang mempunyai tipikal dan karakter tertentu, antara lain: tidak didominasi oleh unsur-unsur estetika tetapi hanya etika, bahasa ilmiah tidak mementingkan keindahan atau yang penuh dengan personality melainkan impersonal. Saat mengajarkan matematika untuk anak TK, tidak perlu bernyanyi menggunakan matematika, tetapi seharusnya memahami hakekat matematika untuk anak. Seharusnya dapat dibedakan antara matematika untuk anak dan untuk orang dewasa. Analoginya, anak yang masih berumur 2 bulan diberi makan jagung bakar oleh kakaknya, karena kakaknya suka makan jagung bakar. Sebelum diberi makan jagung bakar, dinyanyikan dahulu.  Walaupun diawali dengan nyanyian jagung bakar, namun tetap saya anak usia 2 bulan tidak bisa makan jagung bakar. Sehingga harusnya dibedakan jagung untuk orang dewasa dan jagung untuk bayi. Namun pendidikan telah dijadikan proyek oleh orang kalangan atas, karena dunia pendidikan banyak uangnya. Di Indonesia diawali dengan basic science/ilmu dasar, sehingga SD mempelajari basic science yaitu calistung (baca tulis hitung) sehingga yang menjadi korban adalah generasi muda. orang-orang kalangan atas beranggapan bahwa dalam pendidikan yang dianalogikan sebagai jagung bakar, sehingga orang dewasa makan jagung besar dan anak-anak makan jagung bakar kecil. Mereka pandai berbicara tentang matematika sekolah, namun yang dimaksud dengan matematika sekolah itu lain. Matematika sekolah yang mereka pahami adalah matematika yang diajarkan di sekolah. Sedangkan menurut Prof. Dr Marsigit, MA, matematika untuk orang dewasa merupakan ilmu, sedangkan untuk anak kecil matematika merupakan kegiatan (misalnya kegiatan mencari pola, kegiatan mencari persamaan, kegiatan mencari perbedaan, kegiatan mengurutkan, kegiatan membandingkan.
Orang dikatakan pandai berfilsafat ketika sadar ruang dan waktu dari berbagai macam dimensi intensif dan ekstensif. Jika ingin dikatakan cerdas dalam pendidikan matematika maka harus paham isi dari pendidikan matematika itu apa dan mampu mengkomunikasikan sesuai dengan dimesinya. Pentingnya berfilsafat adalah karena filsafat itu berusaha mempelajari kemampuan atau ketrampilan berkomunikasi serta membangun hidup meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Keluarga itu hidup, pendidikan matematika itu hidup, sehingga yang dimaksud dengan membangun hidup bisa merupakan membangun keluarga, membangun pengetahuan matematika, membangun persaudaraan, membangun amal perbuatan yang baik, dan seterusnya. Dampak dari mempelajari filsafat maka orang akan lebih bijaksana karena sesuai dengan ruang dan waktu.
Untuk bahasa-bahasa horisontal artinya ekstensi itu merupakan bahasa yang melintas dari dimensi satu ke dimensi yang lain. Sebagai contoh dalam penulisan karya ilmiah, jika menggunakan filsafat minded dalam menulis, maka hal tersebut tidak santun terhadap ruang dan waktu. Dalam penulisan karya ilmiah bersifat impersonal, subyek dan obyek tidak perlu disebut. Berbeda dengan penulisan elegi yang subjektif. Jadi setelah kita mampu berbicara dengan bahasa multidimensi, dimensi yang beraneka ragam, maka kalau diterapkan di luar kadang-kadang orang itu menilai dari dimensinya. Maka ketika orang berbicara tentang hakiki, dia mempunyai motif tertentu. Ketika Prof. Dr Marsigit, MA menjadi pembicara di Thailand, keynote speaker dari Inggris berbicara tentang hakekat matematika, yaitu “whatever, whenever, and wherever 2 + 5 = 7”. Kemudian Prof. Dr Marsigit, MA memberikan sanggahan bahwa 2 + 5 tidak selalu sama dengan 7, misalnya 2 buku + 5 pensil tidak sama dengan 7 buku. Disini tentang pembicara dari Inggris berbicara yang hakekat matematika yang bermotif mendapatkan uang dari buku yang akan diterbitkan. Seharusnya kita mengetahui ontology hakekat dan mengerjakan secara ontologis dan memperoleh ada, mengada, dan pengada juga secara ontologis. Secara ontologis wadah ketemu isi, misalnya wadahnya adalah menjadi professor dan isinya adalah kegiatan-kegiatan menjadi professor. Mau tidak mau isi mencari wadah dan wadah mencari isi.
            Contoh lain tentang bahasa analogi yaitu perumpamaan tentang seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta (talenta itu sebenarnya adalah ukuran timbangan sebesar 34 kilogram), yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta katanya, “Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.” Maka kata tuannya itu kepadanya, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu katanya, “Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.” Maka kata tuannya itu kepadanya, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.” Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata, “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.” Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah, terimalah kepunyaan tuan!” Maka jawab tuannya itu, “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambilah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”
Makna dari perumpamaan ini di jaman sekarang adalah talenta sebagai bakat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Tuhan telah memberikan bakat yang berbeda-beda kepada setiap manusia, ada yang diberi 5, 2 dan 1 sesuai dengan kesanggupannya masing-masing. Mengelola dan mengerjakan talenta-talenta itu adalah ujian apakah mereka layak untuk mendapatkan atau dipercayakan perkara-perkara yang besar. Yang dituntut bukanlah angka tetapi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dua hamba pertama menunjukkan kualitas diri mereka bahwa mereka adalah hamba-hamab Tuhan yang baik dan setia, mereka mampu menghasilkan talenta sejumlah kemampuan mereka.
Apabila semua hamba dipercayakan sama banyak, misalnya masing-masing diberikan 10 talenta, apakah ketiga hamba itu akan menghasilkan masing-masing 10 talenta? Jawabannya “tidak.” Karena seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa tuan mereka memberikan talenta-talenta itu berdasarkan kemampuan mereka untuk mengelolanya. Hamba pertama diberikan 5 talenta karena kemampuannya adalah menghasilkan laba 5 talenta, jika ia dipercayakan kurang dari 5 talenta maka ia tidak akan maksimal. Demikian pula halnya dengan hamba kedua dipercayakan 2 talenta karena dengan jumlah demikian ia bisa maksimal, yakni menghasilkan 2.
Pesan perumpamaan secara keseluruhan adalah berbuah dan bertanggung jawab atas bakat yang Tuhan percayakan kepada kita. Masing-masing dari kita diberikan bakat yang berbeda dengan porsi yang berbeda pula supaya manusia percaya pada Tuhan dan menggunakan bakat yang dimilikinya sebaik mungkin bagi kemuliaan Tuhan.
Konsep talenta ini seharusnya membuat orang-orang tidak saling cemburu karena beberapa orang mengerjakan banyak perkara yang besar sementara sebagian lagi hanya mengerjakan pekerjaan yang sederhana. Sebagian orang memang diberikan karunia yang luar biasa sehingga mereka dapat melakukan banyak hal dengan sangat baik tetapi sebagian lagi hanya bisa mengerjakan sedikit. Tuhan selalu memberikan pelayanan berdasarkan kemampuan orang tersebut untuk mengerjakannya dengan baik. Oleh karena itu orang yang dipercayakan banyak harus bekerja lebih keras dan orang-orang yang dipercayakan hanya sedikit tidak boleh merasa diri kecil. Setiap orang memiliki bagiannya sendiri-sendiri karena itu setiap orang harus bertanggung jawab atas bakat menjadi bagiannya dan mengerjakannya dengan setia sampai waktu yang dipercayakan itu selesai.
            Namun ada juga ada manusia yang telah diberi bakat oleh Tuhan dan hanya menyimpan bakat yang dimilikinya. Bakat yang telah diberikan Tuhan hendaknya kita kembangkan dengan baik supaya menghasilkan karya yang dapat memuliakan Tuhan, namun apabila bakat tersebut hanya disimpan saja, Tuhan akan mengambil kembali bakat itu dan memberikannya kepada hamba lain yang lebih bertanggung jawab dan mau mengembangkan bakatnya. Oleh sebab itu hendaknya kita menyadari bahwa Tuhan telah menganugerahkan bakat untuk kita masing-masing yang harus kita kembangkan sehingga berbuah semakin banyak dan Tuhan pun akan mempercayakan perkara yang lebih besar kepada kita jika kita setia kepada perkara yang kecil.

No comments:

Post a Comment