Refleksi hari jumat tanggal 11 Oktober
2013 pukul 07.30 – 09.00 kuliah filsafat ilmu kelas C. Bahasa analog, ketika
belum ada penjelasan tentang jaka tingkir, kita belum paham. Ketika sudah
dijelaskan menjadi paham. Kemudian orang menggunakan dalam kondisi tertentu dan
level tertentu sehingga orang mungkin tidak paham. Selain itu kita juga
menjumpai bahasa, tujuannya adalah kita mampu mengkomunikasikan hal-hal yang
dimensinya berbeda. Jadi dimensi orang tua berbeda dengan dimensi anak-anak,
dimensi kakek-kakek berbeda dengan dimensi orang muda. Bahasa analog tidak
sekedar pengandaian dan untuk memahaminya perlu waktu, perlu pengalaman, dan
perlu ikhtiar, serta perlu mengalaminya. Itulah pentingnya berdimensi dan
bahasa.
Berfilsafat itu mengembangkan kemampuan
untuk mengkomunikasikan antara hal-hal yang ada pada dimensi tertentu. Kemudian
dengan adanya pertanyaan mengenai
dimensi material, kemudian naik ke dimensi formal, kemudian naik ke dimensi
normative, dan kemudian dimensi spiritual sebagai modal awal untuk mulai
sensitive terhadap ruang dan waktu. Padahal yang digambarkan tentang 4 dimensi
itu baru sebuah struktur yang dibuat, struktur yang lain masih banyak.
Menyadari adanya struktur lain yang masih banyak tersebut itu manfaat
mempelajari filsafat, apalagi mengenali, apalagi mendeskripsikn, apalagi
menggunakannya. Struktur hidup itu mulai dari diriku, dirimu, dan diri kita.
Diri s2 UNY, diri UNY, diri pendidikan, diri pendidikan nasional itu sudah
merupakan suatu struktur tersendiri.
Tetapi mulai dari diriku, diri keluargaku, diri tetanggaku, diri RTku,
RWku, kampungku, kelurahanku, kecamatanku merupakan struktur lagi. Pikiran,
hati, badaniah, rohaniah merupakan struktur. Jadi ada banyak struktur yang
perlu dikenali, diidentifikasi, dijabarkan, dan seterusnya.
Ketika menulis karya ilmiah menggunakan
bahasa ilmiah yang mempunyai tipikal dan karakter tertentu, antara lain: tidak
didominasi oleh unsur-unsur estetika tetapi hanya etika, bahasa ilmiah tidak
mementingkan keindahan atau yang penuh dengan personality melainkan impersonal.
Saat mengajarkan matematika untuk anak TK, tidak perlu bernyanyi menggunakan
matematika, tetapi seharusnya memahami hakekat matematika untuk anak.
Seharusnya dapat dibedakan antara matematika untuk anak dan untuk orang dewasa.
Analoginya, anak yang masih berumur 2 bulan diberi makan jagung bakar oleh
kakaknya, karena kakaknya suka makan jagung bakar. Sebelum diberi makan jagung
bakar, dinyanyikan dahulu. Walaupun
diawali dengan nyanyian jagung bakar, namun tetap saya anak usia 2 bulan tidak
bisa makan jagung bakar. Sehingga harusnya dibedakan jagung untuk orang dewasa
dan jagung untuk bayi. Namun pendidikan telah dijadikan proyek oleh orang
kalangan atas, karena dunia pendidikan banyak uangnya. Di Indonesia diawali
dengan basic science/ilmu dasar, sehingga SD mempelajari basic science yaitu
calistung (baca tulis hitung) sehingga yang menjadi korban adalah generasi
muda. orang-orang kalangan atas beranggapan bahwa dalam pendidikan yang
dianalogikan sebagai jagung bakar, sehingga orang dewasa makan jagung besar dan
anak-anak makan jagung bakar kecil. Mereka pandai berbicara tentang matematika
sekolah, namun yang dimaksud dengan matematika sekolah itu lain. Matematika
sekolah yang mereka pahami adalah matematika yang diajarkan di sekolah. Sedangkan
menurut Prof. Dr Marsigit, MA, matematika untuk orang dewasa merupakan ilmu,
sedangkan untuk anak kecil matematika merupakan kegiatan (misalnya kegiatan
mencari pola, kegiatan mencari persamaan, kegiatan mencari perbedaan, kegiatan
mengurutkan, kegiatan membandingkan.
Orang dikatakan pandai berfilsafat ketika
sadar ruang dan waktu dari berbagai macam dimensi intensif dan ekstensif. Jika
ingin dikatakan cerdas dalam pendidikan matematika maka harus paham isi dari
pendidikan matematika itu apa dan mampu mengkomunikasikan sesuai dengan
dimesinya. Pentingnya berfilsafat adalah karena filsafat itu berusaha
mempelajari kemampuan atau ketrampilan berkomunikasi serta membangun hidup
meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Keluarga itu hidup, pendidikan
matematika itu hidup, sehingga yang dimaksud dengan membangun hidup bisa
merupakan membangun keluarga, membangun pengetahuan matematika, membangun
persaudaraan, membangun amal perbuatan yang baik, dan seterusnya. Dampak dari
mempelajari filsafat maka orang akan lebih bijaksana karena sesuai dengan ruang
dan waktu.
Untuk bahasa-bahasa horisontal artinya
ekstensi itu merupakan bahasa yang melintas dari dimensi satu ke dimensi yang
lain. Sebagai contoh dalam penulisan karya ilmiah, jika menggunakan filsafat
minded dalam menulis, maka hal tersebut tidak santun terhadap ruang dan waktu.
Dalam penulisan karya ilmiah bersifat impersonal, subyek dan obyek tidak perlu
disebut. Berbeda dengan penulisan elegi yang subjektif. Jadi setelah kita mampu
berbicara dengan bahasa multidimensi, dimensi yang beraneka ragam, maka kalau
diterapkan di luar kadang-kadang orang itu menilai dari dimensinya. Maka ketika
orang berbicara tentang hakiki, dia mempunyai motif tertentu. Ketika Prof. Dr
Marsigit, MA menjadi pembicara di Thailand, keynote speaker dari Inggris
berbicara tentang hakekat matematika, yaitu “whatever, whenever, and wherever 2
+ 5 = 7”. Kemudian Prof. Dr Marsigit, MA memberikan sanggahan bahwa 2 + 5 tidak
selalu sama dengan 7, misalnya 2 buku + 5 pensil tidak sama dengan 7 buku.
Disini tentang pembicara dari Inggris berbicara yang hakekat matematika yang
bermotif mendapatkan uang dari buku yang akan diterbitkan. Seharusnya kita
mengetahui ontology hakekat dan mengerjakan secara ontologis dan memperoleh
ada, mengada, dan pengada juga secara ontologis. Secara ontologis wadah ketemu
isi, misalnya wadahnya adalah menjadi professor dan isinya adalah
kegiatan-kegiatan menjadi professor. Mau tidak mau isi mencari wadah dan wadah
mencari isi.
Contoh lain tentang bahasa analogi
yaitu perumpamaan tentang seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang
memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang
diberikannya lima talenta (talenta itu sebenarnya adalah ukuran timbangan sebesar
34 kilogram), yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu,
masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba
yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima
talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan
berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan
menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
Lama sesudah itu pulanglah tuan
hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima
lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta katanya, “Tuan, lima
talenta tuan percayakan kepadaku lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.”
Maka kata tuannya itu kepadanya, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang
baik dan setia engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan
kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam
kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu katanya,
“Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku lihat, aku telah beroleh laba dua
talenta.” Maka kata tuannya itu kepadanya, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai
hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam
perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara
yang besar.” Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Kini datanglah juga hamba yang menerima
satu talenta itu dan berkata, “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang
kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari
tempat di mana tuan tidak menanam.” Karena itu aku takut dan pergi
menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah, terimalah kepunyaan tuan!” Maka
jawab tuannya itu, “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu,
bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat
di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan
kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta
dengan bunganya. Sebab itu ambilah talenta itu dari padanya dan berikanlah
kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang
mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang
tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”
Makna dari perumpamaan ini di jaman
sekarang adalah talenta sebagai bakat yang dianugerahkan
Tuhan kepada manusia. Tuhan telah memberikan bakat yang berbeda-beda kepada
setiap manusia, ada yang diberi 5, 2 dan 1 sesuai dengan kesanggupannya
masing-masing. Mengelola dan mengerjakan talenta-talenta itu adalah ujian
apakah mereka layak untuk mendapatkan atau dipercayakan perkara-perkara yang
besar. Yang dituntut bukanlah angka tetapi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dua hamba pertama menunjukkan kualitas diri mereka bahwa mereka adalah
hamba-hamab Tuhan yang baik dan setia, mereka mampu menghasilkan talenta
sejumlah kemampuan mereka.
Apabila semua hamba
dipercayakan sama banyak, misalnya masing-masing diberikan 10 talenta, apakah
ketiga hamba itu akan menghasilkan masing-masing 10 talenta? Jawabannya
“tidak.” Karena seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa tuan mereka memberikan
talenta-talenta itu berdasarkan kemampuan mereka untuk mengelolanya. Hamba pertama
diberikan 5 talenta karena kemampuannya adalah menghasilkan laba 5 talenta,
jika ia dipercayakan kurang dari 5 talenta maka ia tidak akan maksimal.
Demikian pula halnya dengan hamba kedua dipercayakan 2 talenta karena dengan
jumlah demikian ia bisa maksimal, yakni menghasilkan 2.
Pesan perumpamaan
secara keseluruhan adalah berbuah dan bertanggung jawab
atas bakat yang Tuhan percayakan kepada kita. Masing-masing dari kita diberikan
bakat yang berbeda dengan porsi yang berbeda pula supaya manusia percaya pada
Tuhan dan menggunakan bakat yang dimilikinya sebaik mungkin bagi kemuliaan
Tuhan.
Konsep talenta ini
seharusnya membuat orang-orang tidak saling cemburu karena beberapa orang
mengerjakan banyak perkara yang besar sementara sebagian lagi hanya mengerjakan
pekerjaan yang sederhana. Sebagian orang memang diberikan karunia yang luar
biasa sehingga mereka dapat melakukan banyak hal dengan sangat baik tetapi
sebagian lagi hanya bisa mengerjakan sedikit. Tuhan selalu memberikan pelayanan
berdasarkan kemampuan orang tersebut untuk mengerjakannya dengan baik. Oleh
karena itu orang yang dipercayakan banyak harus bekerja lebih keras dan
orang-orang yang dipercayakan hanya sedikit tidak boleh merasa diri kecil.
Setiap orang memiliki bagiannya sendiri-sendiri karena itu setiap orang harus bertanggung
jawab atas bakat menjadi bagiannya dan mengerjakannya dengan setia sampai waktu
yang dipercayakan itu selesai.
Namun ada juga ada manusia yang
telah diberi bakat oleh Tuhan dan hanya menyimpan bakat yang dimilikinya. Bakat
yang telah diberikan Tuhan hendaknya kita kembangkan dengan baik supaya
menghasilkan karya yang dapat memuliakan Tuhan, namun apabila bakat tersebut
hanya disimpan saja, Tuhan akan mengambil kembali bakat itu dan memberikannya
kepada hamba lain yang lebih bertanggung jawab dan mau mengembangkan bakatnya. Oleh
sebab itu hendaknya kita menyadari bahwa Tuhan telah menganugerahkan bakat
untuk kita masing-masing yang harus kita kembangkan sehingga berbuah semakin
banyak dan Tuhan pun akan mempercayakan perkara yang lebih besar kepada kita
jika kita setia kepada perkara yang kecil.
No comments:
Post a Comment