Refleksi hari Jumat
tanggal 1 November 2013 pukul 07.30 – 09.00 kuliah filsafat ilmu jurusan
pendidikan matematika-S2 kelas C. Hakekat yang ada bersifat berbubah dan ada
yang bersifat tetap. Tokoh dari ketetpan Permenides, alirannya Perenidesism,
sedangkan tokoh dari yang berubah adalah Heraclitos, aliran filsafatnya disebut
Heraclitosism. Semuanya ibarat pagi dan sore, serta semua filsuf terangkum di
situ. Contoh yang tetap dari manusia yaitu manusia merupakan ciptaan Tuhan,
sedangkan contoh yang berubah adalah manusia dari waktu ke waktu akan berubah,
bahkan dari menit yang lalu ke menit yang sekarang manusia sudah berubah. Dari
ketetapan munculah idealism, sedangkan yang berubah memunculkan realism. Yang
bersifat tetap yaitu yang ada dalam pikiran manusia. Tokoh idealism yaitu Plato
yang menyatakan matematika sudah sempurna, semuanya sudah ada di dalam
matematika, jika belum sempurna artinya hanya belum menemukan matematika saja. Dalam
perjalanan mencari hakekat kadang bisa salah ruang (missal di pasar), tokohnya
adalah Francis Bacon. Tokoh realism adalah Aristoteles.
Paham idealism
memunculkan rasionalism, tokohnya yaitu Rene Descartes, sedangkan paham realism
memunculkan empiricism, tokohnya yaitu David Hume. Empiricism merupakan yang
berubah. Rasionalisme kebenarannya bersifat koheren, sedangkan empiricism
bersifat korespondensi. Dari kedua paham muncul class confronter pada abad ke-16 karena semakin professional,
sehingga muncul tokoh Immanuel Kant. Segala macam yang koheren, konsisten, dan
identitas merupakan sifat dari rasionalism, sedangkan korespondensi dan
kontradiksi merupakan sifat dari empiricism. Pandangan Immanuel Kent menyatakan
bahwa yang koheren, konsisten, dan identitas merupakan analytic yang kemudian memunculkan analytic a priori, sedangkan korespondensi dan kontradiksi
merupakan bersifat sintetik yang memunculkan synthetic a posteriori. Pada synthetic
a posteriori lebih cocok untuk anak-anak karena berpikir setelah melihat,
sedangkan analytic a priori berlum
bertemu dengan orangnya sudah memikirkan yang macam-macam. Analytic a priori berkembang menjadi pure mathematics, sedangkan synthetic
a posteriori berkembang menjadi
mathematics for school.
Kedua paham tersebut
terus berlanjut hingga muncul Auguste Comte yang menganut paham positivism
(anti filsafat) yang merupakan pangkal dari segala macam permasalahan hidup
karena Auguste Comte mempunyai thesis tentang segala yang ada dan yang mungkin
ada. Dari adanya thesis juga memunculkan anti-thesis, jika aku thesis maka
tembok adalah anti thesis. Auguste Comte munculah tiga tingkatan, yang paling
bawah adalah religius, kemudian tingkatan selanjutnya adalah tradisional, dan
yang paling atas adalah masyarakat maju. Namun banyak protes tentang pandangan
tersebut, karena religious dianggap tidak rasional dan tidak bisa dipakai untuk
membangun masyarakat yang maju. Dari situ memunculkan cita-cita adanya empat tingkatan
yaitu yang paling bawah adalah material, kemudian formal/formatif, lalu
normative, dan yang paling tinggi spiritual. Dari dua tingkatan tadi muncul
tantangan, yaitu adanya perbedaan antara pandangan Auguste Comte yang
berpendapat bahwa religious ada di tingkatan paling bawah, sedangkan menurut
cita-cita religious ada di tingkatan paling atas. Dengan adanya tantangan
tersebut kemudian menyeruak menjadi power
now.
Tingkatan yang paling
bawah dari power now adalah archaic,
kemudian di atasnya adalah tribal, lalu naik menjadi tradisional. Dari
tradisional kemudian berlanjut menjadi feodal, lalu dari feodal naik menjadi
modern, dari modern memunculkan tingkatan atasnya yaitu post-modern, dan yang paling tinggi adalah power now. Di dalam power now,
spiritualitas masuk pada area tiga terbawah yaitu archaic, tribal, dan
tradisional. Itulah sebabnya aktifitas yang berbau agama di tingkat dunia
menjadi tidak modis, tidak trendy, dan tidak cool. Baju batik adalah baju yang
anggun dan baju muslim juga merupakan baju yang cantik disini, namun ketika
dalam pergaulan dunia pakaian seperti itu dianggap sebagai archaic, tribal, dan
feodal. Padahal pandangan power now
merupakan penentu dunia, bahkan seberapa banyak oksigen yang dihirup manusia
ditentukan oleh power now. Mereka
menganggap dunia ini semuanya sudah global, dunia ini adalah kampung mereka.
Hal tersebut menyebabkan power now
tidak rela saat Mesir ingin melakukan revolusi.
Di Indonesia juga
terjadi pertentangan dan juga tantangan, bahkan pertentangan itu ada di dalam
diri kita. Contoh dari pertentangan dan tantangan itu yaitu bahwa kita tidak
bisa lepas dari pengaruh power now,
bahkan handphone yang dipakai merupakan produk dari power now, sehingga kita tidak bisa menghindari bahwa kita sendiri
tidak bisa lepas dari power now,
tidak bisa lepas dari gadget yang
merupakan produk dari power now. Di
satu sisi kita harus berguru untuk urusan akhirat, bagaimana menghadapi dunia
yang seperti ini, dan di satu sisi tidak boleh anti terhadap teknologi, karena
kita menggunakan teknologi untuk memudahkan hidup kita. Oleh sebab itu, kita
harus terus ber-hermeunitika yaitu
terjemah dan menerjemahkan. Rasa ingin tahu orang beragama itu proporsional,
sedangkan jika rasa ingin tahunya pada power now merupakan dewa keingin tahuan.
Jika kita tidak memahami filsafat maka akan kesulitan untuk menghadapi fenomena
tersebut.
Positivism bertentangan
dengan filsafat, namun bukan berarti buruk, tetapi positivism merupakan
fenomena dunia. Misalnya saja, malam itu lawan dari siang, tetapi malam bukan
berarti buruk. Malam ada sesuai dengan kebutuhannya, yaitu kita tidur dan
istirahat lebih cocok di malam hari, bukan di siang hari. Malam cocok untuk
keadaannya, siang pun cocok untuk keadaannya, sehingga sesuai dengan
peruntukannya dan semuanya diperlukan. Jika ada siang dan ada malam, maka bisa
menyesuaikan dengan kegiatan kita. Oleh karena itu semuanya bukan permasalahan
baik dan buruk, tetapi sesuai dengan peruntukannya.
Struktur masyarakat
dibuat oleh power now, dimulai dari archaic yaitu masyarakat batu, kemudian
atasnya adalah tribal yaitu suku-suku pedalaman seperti Papua, dan di atasnya
adalah tradisional, disitulah agama yang mernurut mereka ada. Kemudian
masyrakat feodal yang berbentuk kerajaan, lalu menuju masyarakat modern yaitu
abad ke-16 oleh Immanuel Kant, dan dilanjutnya post-modern yang merupakan kehidupan kontemporer saat ini, yaitu power now.